A.
PENGERTIAN
Keperawatan pre operatif merupakan tahapan
awal dari keperawatan perioperatif. Kesuksesan tindakan pembedahan secara
keseluruhan sangat tergantung pada fase ini. Hal ini disebabkan fase ini
merupakan awalan yang menjadi landasan untuk kesuksesan tahapan-tahapan
berikutnya. Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada
tahap berikutnya. Pengakajian secara integral dari fungsi pasien meliputi
fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan
kesuksesan suatu operasi.
B.
PERSIAPAN KLIEN DI
UNIT PERAWATAN
Berbagai persiapan
fisik yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum operasi antara lain :
1. 1. Status kesehatan fisik secara umum
Sebelum dilakukan pembedahan, penting
dilakukan pemeriksaan status kesehatan secara umum, meliputi identitas klien,
riwayat penyakit seperti kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga,
pemeriksaan fisik lengkap, antara lain status hemodinamika, status
kardiovaskuler, status pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik, fungsi endokrin,
fungsi imunologi, dan lain-lain. Selain itu pasien harus istirahat yang cukup,
karena dengan istirahat dan tidur yang cukup pasien tidak akan mengalami stres
fisik, tubuh lebih rileks sehingga bagi pasien yang memiliki riwayat
hipertensi, tekanan darahnya dapat stabil dan bagi pasien wanita tidak akan
memicu terjadinya haid lebih awal.
2. 2. Status Nutrisi
Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan
mengukur tinggi badan dan berat badan, lipat kulit trisep, lingkar lengan atas,
kadar protein darah (albumin dan globulin) dan keseimbangan nitrogen. Segala
bentuk defisiensi nutrisi harus di koreksi sebelum pembedahan untuk memberikan
protein yang cukup untuk perbaikan jaringan. Kondisi gizi buruk dapat
mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi pasca operasi dan
mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit. Komplikasi yang
paling sering terjadi adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi (terlepasnya
jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu), demam dan penyembuhan luka yang
lama. Pada kondisi yang serius pasien dapat mengalami sepsis yang bisa
mengakibatkan kematian.
3. 3. Keseimbangan cairan dan elektrolit
Balance cairan perlu diperhatikan dalam
kaitannya dengan input dan output cairan. Demikaian juga kadar elektrolit serum
harus berada dalam rentang normal. Kadar elektrolit yang biasanya dilakuakan
pemeriksaan diantaranya dalah kadar natrium serum (normal : 135 -145 mmol/l),
kadar kalium serum (normal : 3,5 - 5 mmol/l) dan kadar kreatinin serum (0,70 -
1,50 mg/dl). Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait erat dengan fungsi
ginjal. Dimana ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam basa dan ekskresi
metabolit obat-obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik maka operasi dapat
dilakukan dengan baik. Namun jika ginjal mengalami gangguan seperti
oliguri/anuria, insufisiensi renal akut, nefritis akut maka operasi harus
ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal. Kecuali pada kasus-kasus yang
mengancam jiwa.
4. 4. Kebersihan lambung dan kolon
Lambung dan kolon harus di bersihkan
terlebih dahulu. Intervensi keperawatan yang bisa diberikan diantaranya adalah
pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan pengosongan lambung dan kolon dengan
tindakan enema/lavement. Lamanya puasa berkisar antara 7 sampai 8 jam (biasanya
puasa dilakukan mulai pukul 24.00 WIB). Tujuan dari pengosongan lambung dan
kolon adalah untuk menghindari aspirasi (masuknya cairan lambung ke paru-paru)
dan menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan sehingga menghindarkan
terjadinya infeksi pasca pembedahan. Khusus pada pasien yang menbutuhkan
operasi CITO (segera), seperti pada pasien kecelakaan lalu lintas. Maka
pengosongan lambung dapat dilakukan dengan cara pemasangan NGT (naso gastric
tube).
5. 5. Pencukuran daerah operasi
Pencukuran pada daerah operasi ditujukan
untuk menghindari terjadinya infeksi pada daerah yang dilakukan pembedahan
karena rambut yang tidak dicukur dapat menjadi tempat bersembunyi kuman dan
juga mengganggu/menghambat proses penyembuhan dan perawatan luka. Meskipun
demikian ada beberapa kondisi tertentu yang tidak memerlukan pencukuran sebelum
operasi, misalnya pada pasien luka incisi pada lengan. Tindakan pencukuran
(scheren) harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai menimbulkan luka pada
daerah yang dicukur. Sering kali pasien di berikan kesempatan untuk mencukur
sendiri agar pasien merasa lebih nyaman.
Daerah yang dilakukan pencukuran tergantung
pada jenis operasi dan daerah yang akan dioperasi. Biasanya daerah sekitar alat
kelamin (pubis) dilakukan pencukuran jika yang dilakukan operasi pada daerah
sekitar perut dan paha. Misalnya : apendiktomi, herniotomi, uretrolithiasis,
operasi pemasangan plate pada fraktur femur, hemmoroidektomi. Selain terkait
daerah pembedahan, pencukuran pada lengan juga dilakukan pada pemasangan infus
sebelum pembedahan.
6. 6. Personal Hygine
Kebersihan tubuh pasien sangat penting
untuk persiapan operasi karena tubuh yang kotor dapat merupakan sumber kuman
dan dapat mengakibatkan infeksi pada daerah yang dioperasi. Pada pasien yang
kondisi fisiknya kuat diajurkan untuk mandi sendiri dan membersihkan daerah
operasi dengan lebih seksama. Sebaliknya jika pasien tidak mampu memenuhi
kebutuhan personal hygiene secara mandiri maka perawat akan memeberikan bantuan
pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
7. 7. Pengosongan kandung kemih
Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan
melakukan pemasangan kateter. Selain untuk pengongan isi bladder tindakan
kateterisasi juga diperluka untuk mengobservasi balance cairan.
8.
Latihan Pra Operasi
Berbagai latihan sangat diperlukan pada
pasien sebelum operasi, hal ini sangat penting sebagai persiapan pasien dalam
menghadapi kondisi pasca operasi, seperti : nyeri daerah operasi, batuk dan banyak
lendir pada tenggorokan.
Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara
lain :
a.
Latihan Nafas Dalam
Latihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi
pasien untuk mengurangi nyeri setelah operasi dan dapat membantu pasien
relaksasi sehingga pasien lebih mampu beradaptasi dengan nyeri dan dapat
meningkatkan kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat meningkatkan
ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. Dengan melakukan
latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar maka pasien dapat segera
mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan pasien. Latihan nafas dalam dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1)
Pasien tidur dengan posisi duduk atau
setengah duduk (semifowler) dengan lutut ditekuk dan perut tidak boleh tegang.
2)
Letakkan tangan diatas perut
3)
Hirup udara sebanyak-banyaknya dengan
menggunakan hidung dalam kondisi mulut tertutup rapat.
4)
Tahan nafas beberapa saat (3-5 detik)
kemudian secara perlahan-lahan, udara dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui
mulut.
5)
Lakukan hal ini berulang kali (15 kali)
6)
Lakukan latihan dua kali sehari
praopeartif.
7)
Latihan Batuk Efektif
Latihan batuk efektif juga sangat
diperlukan bagi klien terutama klien yang mengalami operasi dengan anstesi
general. Karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu nafas selama dalam
kondisi teranstesi. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak
nyaman pada tenggorokan. Dengan terasa banyak lendir kental di tenggorokan.
Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setalah operasi untuk
mengeluarkan lendir atau sekret tersebut. Pasien dapat dilatih melakukan teknik
batuk efektif dengan cara :
1.
Pasien condong ke depan dari posisi
semifowler, jalinkan jari-jari tangan dan letakkan melintang diatas incisi
sebagai bebat ketika batuk.
2.
Kemudian pasien nafas dalam seperti cara
nafas dalam (3-5 kali)
3.
Segera lakukan batuk spontan, pastikan
rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya batuk dengan mengadalkan kekuatan
tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada tenggorokan. Hal ini bisa
menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya terhadap incisi.
4.
Ulangi lagi sesuai kebutuhan.
5.
Jika selama batuk daerah operasi terasa
nyeri, pasien bisa menambahkan dengan menggunakan bantal kecil atau gulungan
handuk yang lembut untuk menahan daerah operasi dengan hati-hati sehingga dapat
mengurangi guncangan tubuh saat batuk.
b.
Latihan Gerak Sendi
Latihan gerak sendi merupakan hal sangat
penting bagi pasien sehingga setelah operasi, pasien dapat segera melakukan
berbagai pergerakan yang diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan.
Pasien/keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setalah operasi. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. Pandangan seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga pasien akan lebih cepat kentut/flatus. Keuntungan lain adalah menghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya dekubitus. Tujuan lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal. Intervensi ditujukan pada perubahan posisi tubuh dan juga Range of Motion (ROM). Latihan perpindahan posisi dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun kemudian seiring dengan bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan secara mandiri.
Pasien/keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setalah operasi. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. Pandangan seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga pasien akan lebih cepat kentut/flatus. Keuntungan lain adalah menghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya dekubitus. Tujuan lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal. Intervensi ditujukan pada perubahan posisi tubuh dan juga Range of Motion (ROM). Latihan perpindahan posisi dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun kemudian seiring dengan bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan secara mandiri.
Status kesehatan fisik merupakan faktor
yang sangat penting bagi pasien yang akan mengalami pembedahan, keadaan umum
yang baik akan mendukung dan mempengaruhi proses penyembuhan. Sebaliknya,
berbagai kondisi fisiologis dapat mempengaruhi proses pembedahan. Demikian juga
faktor usia/penuaan dapat mengakibatkan komplikasi dan merupakan faktor resiko
pembedahan. Oleh karena itu sangatlah penting untuk mempersiapkan fisik pasien
sebelum dilakukan pembedahan/operasi. Faktor resiko terhadap pembedahan antara
lain :
1.
Usia
Pasien dengan usia yang terlalu muda (bayi/anak-anak) dan usia lanjut mempunyai resiko lebih besar. Hal ini diakibatkan cadangan fisiologis pada usia tua sudah sangat menurun . sedangkan pada bayi dan anak-anak disebabkan oleh karena belum matur-nya semua fungsi organ.
Pasien dengan usia yang terlalu muda (bayi/anak-anak) dan usia lanjut mempunyai resiko lebih besar. Hal ini diakibatkan cadangan fisiologis pada usia tua sudah sangat menurun . sedangkan pada bayi dan anak-anak disebabkan oleh karena belum matur-nya semua fungsi organ.
2.
Nutrisi
Kondisi malnutrisi dan obesitas/kegemukan lebih beresiko terhadap pembedahan
dibandingakan dengan orang normal dengan gizi baik terutama pada fase
penyembuhan. Pada orang malnutisi maka orang tersebut mengalami defisiensi
nutrisi yang sangat diperlukan untuk proses penyembuhan luka. Nutrisi-nutrisi
tersebut antara lain adalah protein, kalori, air, vitamin C, vitamin B
kompleks, vitamin A, Vitamin K, zat besi dan seng (diperlukan untuk sintesis
protein).
Pada pasien yang mengalami obesitas. Selama pembedahan jaringan lemak, terutama sekali sangat rentan terhadap infeksi. Selain itu, obesitas meningkatkan permasalahan teknik dan mekanik. Oleh karenanya dehisiensi dan infeksi luka, umum terjadi. Pasien obes sering sulit dirawat karena tambahan beraat badan; pasien bernafas tidak optimal saat berbaaring miring dan karenanya mudah mengalami hipoventilasi dan komplikasi pulmonari pascaoperatif. Selain itu, distensi abdomen, flebitis dan kardiovaskuler, endokrin, hepatik dan penyakit biliari terjadi lebih sering pada pasien obes.
Pada pasien yang mengalami obesitas. Selama pembedahan jaringan lemak, terutama sekali sangat rentan terhadap infeksi. Selain itu, obesitas meningkatkan permasalahan teknik dan mekanik. Oleh karenanya dehisiensi dan infeksi luka, umum terjadi. Pasien obes sering sulit dirawat karena tambahan beraat badan; pasien bernafas tidak optimal saat berbaaring miring dan karenanya mudah mengalami hipoventilasi dan komplikasi pulmonari pascaoperatif. Selain itu, distensi abdomen, flebitis dan kardiovaskuler, endokrin, hepatik dan penyakit biliari terjadi lebih sering pada pasien obes.
3.
Penyakit Kronis
Pada pasien yang menderita
penyakit kardiovaskuler, diabetes, PPOM, dan insufisiensi ginjal menjadi lebih
sukar terkait dengan pemakian energi kalori untuk penyembuhan primer. Dan juga
pada penyakit ini banyak masalah sistemik yang mengganggu sehingga komplikasi
pembedahan maupun pasca pembedahan sangat tinggi.
4.
Ketidaksempurnaan respon neuroendokrin
Pada pasien yang
mengalami gangguan fungsi endokrin, seperti dibetes mellitus yang tidak
terkontrol, bahaya utama yang mengancam hidup pasien saat dilakukan pembedahan
adalah terjadinya hipoglikemia yang mungkin terjadi selama pembiusan akibat
agen anstesi. Atau juga akibat masukan karbohidrat yang tidak adekuart pasca
operasi atau pemberian insulin yang berlebihan. Bahaya lain yang mengancam
adalah asidosis atau glukosuria. Pasien yang mendapat terapi kortikosteroid
beresiko mengalami insufisinsi adrenal. Pengguanaan oabat-obatan kortikosteroid
harus sepengetahuan dokter anastesi dan dokter bedahnya.
5.
Merokok
Pasien dengan riwayat merokok biasanya akan mengalami gangguan vaskuler,
terutama terjadi arterosklerosis pembuluh darah, yang akan meningkatkan tekanan
darah sistemiknya.
6.
Alkohol dan obat-obatan
Individu dengan
riwayat alkoholic kronik seringkali menderita malnutrisi dan masalah-masalah
sistemik, sperti gangguan ginjal dan hepar yang akan meningkatkan resiko
pembedahan. Pada kasus kecelakaan lalu lintas yang seringkali dialami oleh
pemabuk. Maka sebelum dilakukan operasi darurat perlu dilakukan pengosongan
lambung untuk menghindari asprirasi dengan pemasangan NGT.
b)
PERSIAPAN PENUNJANG
Persiapan penunjang merupakan bagian yang
tidak dapat dipisahkan dari tindakan pembedahan. Tanpa adanya hasil pemeriksaan
penunjang, maka dokter bedah tidak meungkin bisa menentukan tindakan operasi
yang harus dilakukan pada pasien. Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah
berbagai pemeriksaan radiologi, laboratorium maupun pemeriksaan lain seperti
ECG, dan lain-lain.
Sebelum dokter mengambil keputusan untuk
melakukan operasi pada pasien, dokter melakukan berbagai pemeriksaan terkait
dengan keluhan penyakit pasien sehingga dokter bisa menyimpulkan penyakit yang
diderita pasien. Setelah dokter bedah memutuskan untuk dilakukan operasi maka
dokter anstesi berperan untuk menentukan apakan kondisi pasien layak menjalani
operasi. Untuk itu dokter anastesi juga memerlukan berbagai macam pemrikasaan
laboratorium terutama pemeriksaan masa perdarahan (bledding time) dan masa
pembekuan (clotting time) darah pasien, elektrolit serum, Hemoglobin, protein
darah, dan hasil pemeriksaan radiologi berupa foto thoraks dan EKG.
Dibawah ini adalah berbagai jenis
pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan pada pasien sebelum operasi (tidak
semua jenis pemeriksaan dilakukan terhadap pasien, namun tergantung pada jenis
penyakit dan operasi yang dijalani oleh pasien). Pemeriksaan penunjang antara
lain :
1.
Pemeriksaan Radiologi dan diagnostik,
seperti : Foto thoraks, abdomen, foto tulang (daerah fraktur), USG (Ultra Sono
Grafi), CT scan (computerized Tomography Scan) , MRI (Magnrtic Resonance
Imagine), BNO-IVP, Renogram, Cystoscopy, Mammografi, CIL (Colon in Loop),
EKG/ECG (Electro Cardio Grafi), ECHO, EEG (Electro Enchephalo Grafi), dll.
2.
Pemeriksaan Laboratorium, berupa
pemeriksaan darah : hemoglobin, angka leukosit, limfosit, LED (laju enap
darah), jumlah trombosit, protein total (albumin dan globulin), elektrolit
(kalium, natrium, dan chlorida), CT/BT, ureum kretinin, BUN, dll. Bisa juga
dilakukan pemeriksaan pada sumsun tulang jika penyakit terkaut dengan kelainan
darah.
3.
Biopsi, yaitu tindakan sebelum operasi
berupa pengambilan bahan jaringan tubuh untuk memastikan penyakit pasien
sebelum operasi. Biopsi biasanya dilakukan untuk memastikan apakah ada tumor
ganas/jinak atau hanya berupa infeksi kronis saja.
4.
Pemeriksaan Kadar Gula Darah (KGD).
5.
Pemeriksaan KGD dilakukan untuk mengetahui
apakah kadar gula darah pasien dalan rentang normal atau tidak. Uji KGD
biasanya dilakukan dengan puasa 10 jam (puasa jam 10 malam dan diambil darahnya
jam 8 pagi) dan juga dilakukan pemeriksaan KGD 2 jam PP (ppst prandial).
c)
PEMERIKSAAN STATUS ANASTESI
Pemeriksaaan status fisik untuk dilakukan
pembiuasan dilakukan untuk keselamatan selama pembedahan. Sebelum dilakukan
anastesi demi kepentingan pembedahan, pasien akan mengalami pemeriksaan status
fisik yang diperlukan untuk menilai sejauh mana resiko pembiusan terhadap diri
pasien. Pemeriksaan yang biasa digunakan adalah pemeriksaan dengan menggunakan
metode ASA (American Society of Anasthesiologist). Pemeriksaan ini dilakukan
karena obat dan teknik anastesi pada umumnya akan mengganggu fungsi pernafasan,
peredaran darah dan sistem saraf. Berikut adalah tabel pemeriksaan ASA.
ASA grade I
Status fisik : Tidak ada gangguan organik, biokimia dan psikiatri.
Misal: penderita dengan herinia ingunalis tanpa kelainan lain, orang tua sehat,
bayi muda yang sehat.Mortality (%) : 0,05.
ASA grade II
ASA grade II
Status fisik : Gangguan sistemik ringan sampai sedang yang
bukan diseababkan oleh penyakit yang akan dibedah. Misal: penderita dengan
obesitas, penderita dengan bronkitis dan penderita dengan diabetes mellitus ringan
yang akan mengalami appendiktomi.
Mortality(%):0,4.
ASA grade III
ASA grade III
Status fisik : Penyakit sistemik berat; misalnya penderita
diabetes mellitus dengan komplikasi pembuluh darah dan datang dengan
appendisitis akut.
Mortality(%):4,5.
ASA grade IV
Mortality(%):4,5.
ASA grade IV
Status fisik : Penyakit/gangguan sistemik berat yang
menbahayakan jiwa yang tidak selalu dapat diperbaiki dengan pembedahan, misalnya
: insufisiensi coroner atau infark miokard.Mortality (%) : 25
ASA grade V
ASA grade V
Status fisik : Penyakit/gangguan sistemik berat yang
menbahayakan jiwa yang tidak selalu dapat diperbaiki dengan pembedahan,
misalnya : insufisiensi koroner atau infark miokard
Mortality (%) : 50.
Mortality (%) : 50.
d)
INFORM CONSENT
Selain dilakukannya berbagai macam
pemeriksaan penunjang terhadap pasien, hal lain yang sangat penting terkait
dengan aspek hukum dan tanggung jawab dan tanggung gugat, yaitu Inform Consent.
Baik pasien maupun keluarganya harus menyadari bahwa tindakan medis, operasi
sekecil apapun mempunyai resiko. Oleh karena itu setiap pasien yang akan menjalani
tindakan medis, wajib menuliskan surat pernyataan persetujuan dilakukan
tindakan medis (pembedahan dan anastesi).
Meskipun mengandung resiko tinggi tetapi
seringkali tindakan operasi tidak dapat dihindari dan merupakan satu-satunya
pilihan bagi pasien. Dan dalam kondisi nyata, tidak semua tindakan operasi
mengakibatkan komplikasi yang berlebihan bagi klien. Bahkan seringkali pasien
dapat pulang kembali ke rumah dalam keadaan sehat tanpa komplikasi atau resiko
apapun segera setelah mengalami operasi. Tentunya hal ini terkait dengan
berbagai faktor seperti: kondisi nutrisi pasien yang baik, cukup istirahat,
kepatuhan terhadap pengobatan, kerjasama yang baik dengan perawat dan tim
selama dalam perawatan.
Inform Consent sebagai wujud dari upaya
rumah sakit menjunjung tinggi aspek etik hukum, maka pasien atau orang yang
bertanggung jawab terhdap pasien wajib untuk menandatangani surat pernyataan
persetujuan operasi. Artinya apapun tindakan yang dilakukan pada pasien terkait
dengan pembedahan, keluarga mengetahui manfaat dan tujuan serta segala resiko
dan konsekuensinya. Pasien maupun keluarganya sebelum menandatangani surat
pernyataan tersut akan mendapatkan informasi yang detail terkait dengan segala
macam prosedur pemeriksaan, pembedahan serta pembiusan yang akan dijalani. Jika
petugas belum menjelaskan secara detail, maka pihak pasien/keluarganya berhak
untuk menanyakan kembali sampai betul-betul paham. Hal ini sangat penting untuk
dilakukan karena jika tidak meka penyesalan akan dialami oleh pasien/keluarga
setelah tindakan operasi yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan gambaran keluarga.
e)
PERSIAPAN MENTAL/PSIKIS
Persiapan mental merupakan hal yang tidak
kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak
siap atau labil dapat berpengaruh terhadap kondisi fisiknya.
Tindakan pembedahan merupakan ancaman
potensial maupun aktual pada integeritas seseorang yang dapat membangkitkan
reaksi stres fisiologis maupun psikologis (Barbara C. Long).Contoh perubahan
fisiologis yang muncul akibat kecemasan dan ketakutan antara lain :Pasien
dengan riwayat hipertensi jika mengalami kecemasan sebelum operasi dapat
mengakibatkan pasien sulit tidur dan tekanan darahnya akan meningkat sehingga
operasi bisa dibatalkan. Pasien wanita yang terlalu cemas menghadapi operasi
dapat mengalami menstruasi lebih cepat dari biasanya, sehingga operasi terpaksa
harus ditunda.
Setiap orang mempunyai pandangan yang
berbeda dalam menghadapi pengalaman operasi sehingga akan memberikan respon
yang berbeda pula, akan tetapi sesungguhnya perasaan takut dan cemas selalu
dialami setiap orang dalam menghadapi pembedahan. Berbagai alasan yang dapat
menyebabkan ketakutan/kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain
:
1)
Takut nyeri setelah pembedahan
2)
Takut terjadi perubahan fisik, menjadi
buruk rupa dan tidak berfungsi normal (body image)
3)
Takut keganasan (bila diagnosa yang
ditegakkan belum pasti)
4)
Takut/cemas mengalami kondisi yang sama
dengan orang lain yang mempunyai penyakit yang sama.
5)
Takut/ngeri menghadapi ruang operasi,
peralatan pembedahan dan petugas.
6)
Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi.
7)
Takut operasi gagal.
Ketakutan dan kecemasan yang mungkin
dialami pasien dapat dideteksi dengan adanya perubahan-perubahan fisik seperti
: meningkatnya frekuensi nadi dan pernafasan, gerakan-gerakan tangan yang tidak
terkontrol, telapak tangan yang lembab, gelisah, menayakan pertanyaan yang sama
berulang kali, sulit tidur, sering berkemih. Perawat perlu mengkaji mekanisme
koping yang biasa digunakan oleh pasien dalam menghadapi stres. Disamping itu
perawat perlu mengkaji hal-hal yang bisa digunakan untuk membantu pasien dalam
menghadapi masalah ketakutan dan kecemasan ini, seperti adanya orang terdekat,
tingkat perkembangan pasien, faktor pendukung/support system.
Untuk mengurangi / mengatasi kecemasan pasien, perawat dapat menanyakan hal-hal yang terkait dengan persiapan operasi, antara lain :
Untuk mengurangi / mengatasi kecemasan pasien, perawat dapat menanyakan hal-hal yang terkait dengan persiapan operasi, antara lain :
1.
Pengalaman operasi sebelumnya
Persepsi pasien dan keluarga tentang
tujuan/alasan tindakan operasi
Pengetahuan pasien dan keluarga tentang persiapan operasi baik fisik maupun penunjang.
Pengetahuan pasien dan keluarga tentang persiapan operasi baik fisik maupun penunjang.
2.
Pengetahuan pasien dan keluarga tentang
situasi/kondisi kamar operasi dan petugas kamar operasi.
Pengetahuan pasien dan keluarga tentang
prosedur (pre, intra, post operasi)
Pengetahuan tentang latihan-latihan yang
harus dilakukan sebelum operasi dan harus dijalankan setalah operasi, seperti :
latihan nafas dalam, batuk efektif, ROM, dll.
Persiapan mental yang kurang memadai dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan pasien dan keluarganya. Sehingga tidak
jarang pasien menolak operasi yang sebelumnya telah disetujui dan biasanya
pasien pulang tanpa operasi dan beberapa hari kemudian datang lagi ke rumah
sakit setalah merasa sudah siap dan hal ini berarti telah menunda operasi yang
mestinya sudah dilakukan beberapa hari/minggu yang lalu. Oleh karena itu
persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan
didukung oleh keluarga/orang terdekat pasien.
Persiapan mental dapat dilakukan dengan
bantuan keluarga dan perawat. Kehadiran dan keterlibatan keluarga sangat
mendukung persiapan mental pasien. Keluarga hanya perlu mendampingi pasien
sebelum operasi, memberikan doa dan dukungan pasien dengan kata-kata yang
menenangkan hati pasien dan meneguhkan keputusan pasien untuk menjalani operasi.
Peranan perawat dalam memberikan dukungan mental dapat dilakukan dengan berbagai cara:
Peranan perawat dalam memberikan dukungan mental dapat dilakukan dengan berbagai cara:
1.
Membantu pasien mengetahui tentang
tindakan-tindakan yang dialami pasien sebelum operasi, memberikan informasi
pada pasien tentang waktu operasi, hal-hal yang akan dialami oleh pasien selama
proses operasi, menunjukkan tempat kamar operasi, dll.
2.
Dengan mengetahui berbagai informasi selama
operasi maka diharapkan pasien mejadi lebih siap menghadapi operasi, meskipun
demikian ada keluarga yang tidak menghendaki pasien mengetahui tentang berbagai
hal yang terkait dengan operasi yang akan dialami pasien.
3.
Memberikan penjelasan terlebih dahulu
sebelum setiap tindakan persiapan operasi sesuai dengan tingkat perkembangan.
Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas. Misalnya: jika pasien harus puasa,
perawat akan menjelaskan kapan mulai puasa dan samapai kapan, manfaatnya untuk
apa, dan jika diambil darahnya, pasien perlu diberikan penjelasan tujuan dari
pemeriksaan darah yang dilakukan, dll. Diharapkan dengan pemberian informasi yang
lengkap, kecemasan yang dialami oleh pasien akan dapat diturunkan dan
mempersiapkan mental pasien dengan baik
4.
Memberi kesempatan pada pasien dan
keluarganya untuk menanyakan tentang segala prosedur yang ada. Dan memberi
kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa bersama-sama sebelum pasien di
antar ke kamar operasi.
5.
Mengoreksi pengertian yang saah tentang
tindakan pembedahan dan hal-hal lain karena pengertian yang salah akan
menimbulkan kecemasan pada pasien.
6.
Kolaborasi dengan dokter terkait dengan
pemberian obat pre medikasi, seperti valium dan diazepam tablet sebelum pasien
tidur untuk menurunkan kecemasan dan pasien dapat tidur sehingga kebutuhan
istirahatnya terpenuhi.
7.
Pada saat pasien telah berada di ruang
serah terima pasien di kamar operasi, petugas kesehatan di situ akan
memperkenalkan diri sehingga membuat pasien merasa lebih tenang. Untuk
memberikan ketenangan pada pasien, keluarga juga diberikan kesempatn untuk
mengantar pasien samapi ke batas kamar operasi dan diperkenankan untuk menunggu
di ruang tunggu yang terletak di depan kamar operasi.
OBAT-OBATAN PRE MEDIKASI
Sebelum operasi dilakukan pada esok
harinya. Pasien akan diberikan obat-obatan premedikasi untuk memberikan
kesempatan pasien mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Obat-obatan
premedikasi yang diberikan biasanya adalah valium atau diazepam. Antibiotik
profilaksis biasanya di berikan sebelum pasien di operasi. Antibiotik
profilaksis yang diberikan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi
selama tindakan operasi, antibiotika profilaksis biasanya di berikan 1-2 jam
sebelum operasi dimulai dan dilanjutkan pasca bedah 2- 3 kali. Antibiotik yang
dapat diberikan adalah ceftriakson 1gram dan lain-lain sesuai indikasi pasien.
C.
ASUHAN KEPERAWATAN
A.
PENGKAJIAN
Pengkajian adalah
langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh
(Boedihartono, 1994 : 10).
Pengkajian pasien Pre operatif (Marilynn E. Doenges, 1999) meliputi :
1)
Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus.
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus.
2)
Integritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple,
misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi
simpatis.
3)
Makanan / cairan
Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk
hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa
yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
4)
Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
5)
Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
6)
Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic,
antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic,
dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga
obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol
(risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan
anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa
keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun
potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 : 17).
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien Pre Operatif (Wilkinson, M.
Judith, 2006) meliputi:
- 1. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan status kesehatan, ancaman terhadap pola interaksi dengan orang yang berarti, krisis situasi atau krisis maturasi.
- 2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan, efek samping penanganan, factor budaya atau spiritual yang berpengaruh pada perubahan penampilan.
- 3. Koping individu, ketidakefektifan berhubungan dengan perubahan penampilan, keluhan terhadap reaksi orang lain, kehilangan fungsi, diagnosis kanker.
- 4. Proses keluarga, perubahan berhubungan dengan terapi yang kompleks, hospitalisasi/perubahan lingkungan, reaksi orang lain terhadap perubahan penampilan.
- 5. Ketakutan berhubungan dengan proses penyakit/prognosis (misalnya kanker), ketidakberdayaan.
- 6. Mobilitas fisik, hambatan berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kerusakan saraf/otot, dan nyeri.
C.
INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI
Intervensi adalah penyusunan rencana
tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai
dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono, 1994:20)
Implementasi adalah pengelolaan dan
perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan
(Effendi, 1995:40).
Intervensi dan implementasi keperawatan pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith, 2006) adalah :
Intervensi dan implementasi keperawatan pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith, 2006) adalah :
No
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Tujuan
dan Kriteria Hasil
|
Intervensi
dan Implementasi
|
Rasional
|
1
|
Ansietas berhubungan dengan ancaman
terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan status kesehatan, ancaman
terhadap pola interaksi dengan orang yang berarti, krisis situasi atau krisis
maturasi.
|
Tujuan : ansietas berkurang/terkontrol.
Kriteria hasil : - klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang membuat stress. - klien mampu mempertahankan penampilan peran. - klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori. - klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik. - tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan. |
1. Kaji dan
dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.
2. Kaji mekanisme
koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu.
3. Lakukan
pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan.
4. Motivasi pasien
untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapa-harapan yang
positif terhadap terapy yang di jalani.
5. Berikan penguatan
yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam keadaan
cemas.
6. Anjurkan pasien
untuk menggunakan teknik relaksasi..
7. Sediakan
informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut
diagnosis, perawatan dan prognosis.
8. Kolaborasi
pemberian obat anti ansietas.
|
1. memudahkan
intervensi.
2. mempertahankan
mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan
mengontrol ansietas.
3. pendekatan dan
motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang
dirasakan.
4. alat untuk
mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan.
5. menciptakan rasa
percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi masalahnya dan
memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan orang
lain atas kemampuannya
6. menciptakan
perasaan yang tenang dan nyaman
7. meningkatkan
pengetahuan, mengurangi kecemasan
8. mengurangi
ansietas sesuai kebutuhan..
|
2
|
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan
pembedahan, efek samping penanganan, factor budaya atau spiritual yang
berpengaruh pada perubahan penampilan
|
Tujuan : pasien memiliki persepsi yang positif terhadap
penampilan dan fungsi tubuh.
Kriteria hasil : - pasien melaporkan kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh. - memiliki keinginan untuk menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan. - menggambarkan perubahan actual pada fungsi tubuh. |
1. Kaji dan
dokumentasikan respons verbal dan non verbal pasien tentang tubuhnya.
2. Kaji harapan
pasien tentang gambaran tubuh.
3. Dengarkan pasien
dan keluarga secara aktif, dan akui realitas adanya perhatian terhadap
perawatan, kemajuan dan prognosis.
4. Berikan perawatan
dengan cara yang tidak menghakimi, jaga privasi dan martabat pasien.
|
1. factor yang
mengidentifikasikan adanya gangguan persepsi pada citra tubuh.
2. mungkin realita
saat ini berbeda dengan yang diharapkan pasien sehingga pasien tidak menyukai
keadaan fisiknya.
3. mungkin realita
saat ini berbeda dengan yang diharapkan pasien sehingga pasien tidak menyukai
keadaan fisiknya.
4. menciptakan
suasana saling percaya, meningkatkan harga diri dan perasaan berarti dalam
diri pasien.
|
3
|
Koping individu, ketidakefektifan
berhubungan dengan perubahan penampilan, keluhan terhadap reaksi orang lain,
kehilangan fungsi, diagnosis kanker.
|
Tujuan : pasien menunjukkan koping yang efektif.
Kriteria hasil : - pasien akan menunjukkan minat terhadap aktivitas untuk mengisi waktu luang. - mengidentifikasikan kekuatan personal yang dapat mengembangkan koping yang efektif. - menimbang serta memilih diantara alternative dan konsekuensinya. - berpartisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS). |
1. Kaji pandangan
pasien terhadap kondisinya dan kesesuaiannya dengan pandangan pemberi
pelayanan kesehatan.
2. Gunakan pendekatan
yang tenang dan meyakinkan.
3. Anjurkan pasien
untuk mengidentifikasi gambaran perubahan peran yang realitas.
4. Bantu pasien
dalam mengidentifikasi respons positif dari orang lain.
5.Libatkan sumber-sumber yang ada di rumah sakit dalam
memberikan dukungan emosional untuk pasien dan keluarga.
|
1. mengidentifikasi
persepsi pasien terhadap kondisinya
2. menghindari
ketakutan dan menciptakan hubungan saling percaya, memudahkan intervensi
3. memberikan arahan
pada persepsi pasien tentang kondisi nyata yang ada saat ini.
4. meningkatkan
perasaan berarti, memberikan penguatan yang positif.
5. menciptakan
suasana saling percaya, perasaan berarti, dan mengurangi kecemasan.
|
4
|
Proses keluarga, perubahan berhubungan
dengan terapi yang kompleks, hospitalisasi/perubahan lingkungan, reaksi orang
lain terhadap perubahan penampilan.
|
Tujuan : pasien dan keluarga memahami perubahan perubahan
dalam peran keluarga.
Kriteria hasil : - pasien/keluarga mampu mengidentifikasi koping. - paien/keluarga berpartisipasi dalam proses membuat keputusan berhubungan dengan perawatan setelah rawat inap. |
1. Kaji interaksi
antara pasien dan keluarga.
2. Bantu keluarga
dalam mengidentifikasi perilaku yang mungkin menghambat pengobatan
3. Diskusikan dengan
anggota keluarga tentang tambahan ketrampilan koping yang digunakan.
4. Dukung kesempatan untuk mendapatkan pengalaman
masa anak-anak yang normal pada anak yang berpenyakit kronis atau tidak
mampu.
|
1. mengidentifikasi
masalah, memudahkan intervensi.
2. mempengaruhi
pilihan intervensi
3. membantu keluarga
dalam memilih mekanisme koping adaptif yang tepat .
4. memudahkan keluarga
dalam menciptakan/memelihara fungsi anggota keluarga.
|
5
|
Ketakutan berhubungan dengan proses
penyakit/prognosis (misalnya kanker), ketidakberdayaan
|
Tujuan : pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan.
Kriteria hasil : - mencari informasi untuk menurunkan ketakutan. - menggunakan teknik relaksasi untuk menurnkan ketakutan. - mempertahankan penampilan peran dan hubungan social |
1. Kaji respons
takut subjektif dan objektif pasien.
2. Berikan penguatan
positif bila pasien mendemonstrasikan perilaku yang dapat menurunkan atau
mengurangi takut.
3. Lakukan
pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan.
4. Motivasi pasien
untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan yang
positif terhadap terapy yang di jalani..
|
1. mengidentifikasi
masalah, memudahkan intervensi.
2. mempertahankan
perilaku koping yang efektif.
3. pendekatan dan
motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang
dirasakan.
4. alat untuk
mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan
|
6
|
Mobilitas fisik, hambatan berhubungan
dengan penurunan rentang gerak, kerusakan saraf/otot, dan nyeri.
|
Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat
mobilitas optimal.
Kriteria hasil : - penampilan yang seimbang.. - melakukan pergerakkan dan perpindahan. - mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik :
0 = mandiri penuh
1 = memerlukan alat Bantu.
2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan,
pengawasan, dan pengajaran.
3 =membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.
4 =ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.
|
1.
Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan
dan kebutuhan akan peralatan.
2.
Tentukan tingkat motivasi pasien dalam
melakukan aktivitas..
3.
Ajarkan dan pantau pasien dalam hal
penggunaan alat bantu.
4.
Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan
ROM aktif dan pasif.
5. Kolaborasi dengan
ahli terapi fisik atau okupasi.
|
1. mengidentifikasi
masalah, memudahkan intervensi.
2. mempengaruhi
penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah
ketidakmauan
3. menilai batasan
kemampuan aktivitas optimal.
4. mempertahankan
/meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
5. sebagai suaatu
sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan
mobilitas pasien.
|
D.
EVALUASI
Evaluasi adalah
stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian
tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau
intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, Christine. 2001).
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Pre Operasi Tumor adalah :
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Pre Operasi Tumor adalah :
1)
Ansietas berkurang/terkontrol.
2) Pasien memiliki
persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
3) Pasien menunjukkan
koping yang efektif.
4) Pasien dan keluarga
memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga.
5) Pasien akan
memperlihatkan pengendalian ketakutan.
6) Pasien akan
menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
DAFTAR PUSTAKA
1. Boedihartono. 1994.
Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta.
2. Brooker, Christine.
2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta.
3. Effendy,
Christantie dan Ag. Sri Oktri Hastuti. 2005. Kiat Sukses menghadapi Operasi.
Sahabat Setia : Yogyakarta.
4. Effendy,
Christantie. 2002. Handout Kuliah Keperawatan Medikal Bedah : Preoperatif
Nursing, Tidak dipublikasikan : Yogyakarta.
5. Marilynn E.
Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.
0 comments: